Pada 2 Februari 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar pertemuan virtual penting bersama penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang menjadi sorotan pelaku pasar modal domestik maupun investor global. Pertemuan ini digelar di tengah tekanan pasar yang signifikan karena isu transparansi data dan likuiditas yang disorot oleh MSCI, dan berimbas pada penurunan indeks saham utama Bursa Efek Indonesia dalam beberapa pekan terakhir.
Latar Belakang Pertemuan
Sebelum rapat virtual dengan MSCI berlangsung, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami tekanan tajam akibat kekhawatiran investor terkait penilaian investabilitas pasar modal Indonesia oleh MSCI. MSCI sebelumnya menahan beberapa perubahan dan penambahan saham Indonesia dalam indeksnya karena adanya isu transparansi data kepemilikan saham publik (free float) dan data beneficial ownership yang dianggap kurang rinci.
Situasi tersebut membuat pelaku pasar bersikap wait and see menjelang pertemuan, yang menyebabkan IHSG kembali bergerak di zona merah pada awal pekan. Investor asing terutama memperhatikan hasil pertemuan karena reputasi MSCI sangat memengaruhi aliran modal global, terutama dari institusi besar.
Poin-Poin Penting Hasil Rapat Virtual BEI-OJK dengan MSCI
Hasil pertemuan virtual BEI dengan MSCI mencakup sejumlah poin penting yang disampaikan oleh OJK, BEI, dan pihak terkait. Berikut ringkasan inti yang perlu diketahui:
1. Proposal Solusi untuk Isu Transparansi
OJK bersama BEI dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) secara resmi menyampaikan proposal solusi kepada MSCI untuk menangani kekhawatiran utamanya terkait transparency pasar modal Indonesia. Proposal ini dirancang untuk menjawab dua isu besar yang disorot MSCI.
Salah satu komitmen yang disampaikan adalah peningkatan disclosure kepemilikan saham yang dimiliki publik dari sebelumnya di atas 5% menjadi di atas 1%, sehingga data yang tersedia menjadi lebih rinci dan bisa mencerminkan struktur kepemilikan sesungguhnya. Hal ini diharapkan dapat membantu MSCI menilai data free float lebih akurat.
2. Pengungkapan Investor Berdasarkan Kategori Baru
Selain itu, OJK juga siap menyediakan data kepemilikan saham yang lebih rinci, termasuk klasifikasi 27 sub-tipe investor, serta informasi mengenai beneficial owner. Langkah ini penting untuk menjawab keraguan MSCI terhadap transparansi struktur kepemilikan saham emiten di Indonesia.
3. Rencana Kenaikan Free Float
Pembahasan lainnya adalah peningkatan batas free float minimum dari 7,5% menjadi 15% secara bertahap. Upaya ini merupakan bagian dari strategi memperdalam pasar modal Indonesia agar lebih menarik minat investor global dan meningkatkan bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI.
Reaksi Pasar Setelah Pertemuan
Pasca pertemuan, suasana pasar tidak serta-merta langsung berubah drastis. Pada sesi perdagangan selanjutnya, IHSG masih dibuka dengan tren melemah, mencerminkan masih adanya ketidakpastian pelaku pasar terhadap keputusan final dari MSCI yang belum diumumkan secara resmi.
Namun, beberapa analis dan pelaku pasar mulai menganggap hasil rapat ini sebagai langkah awal yang positif, terutama karena adanya komitmen kuat dari regulator untuk memperbaiki governance pasar, meningkatkan transparansi, dan membuka dialog lanjutan pada tingkat teknis dengan MSCI.
Beberapa sumber bahkan mencatat bahwa sentimen reformasi yang dihasilkan dari pertemuan BEI-OJK dengan MSCI mulai memberikan peluang rebound bagi IHSG kala pasar melihat adanya sinyal net inflow saham asing dan dukungan terhadap langkah reformasi yang diajukan.
Apa Artinya Bagi Investor?
Bagi investor, baik dalam negeri maupun luar negeri, hasil pertemuan ini menunjukkan bahwa otoritas pasar modal Indonesia serius dalam merespons kekhawatiran global, khususnya dari MSCI. Komitmen untuk meningkatkan transparansi serta upaya memperdalam pasar modal dipandang sebagai fondasi penting untuk memulihkan kepercayaan investor, terutama institusi besar yang mengandalkan indeks global sebagai acuan investasi.
Namun, hasil pertemuan ini bukanlah akhir dari proses. Pelaku pasar kini menunggu langkah teknis lanjutan dan keputusan final dari MSCI dalam waktu dekat, yang diperkirakan akan menentukan arah aliran modal asing ke pasar saham Indonesia pada kuartal berikutnya.
Kesimpulan:
Hasil pertemuan virtual antara BEI, OJK, dan MSCI menandai komitmen siap memperbaiki transparansi pasar modal Indonesia dengan peningkatan disclosure data, penyediaan informasi investor yang lebih detail, serta rencana kenaikan free float. Meskipun reaksi pasar tetap hati-hati, langkah ini menjadi titik awal reformasi penting
