Kabar duka kembali menyelimuti industri tekstil tanah air seiring dengan pengumuman resmi dari otoritas bursa mengenai nasib salah satu raksasa manufaktur di pasar modal. PT Sri Rejeki Isman Tbk kini berada dalam posisi di mana SRIL resmi menuju delisting atau penghapusan pencatatan saham secara permanen dari Bursa Efek Indonesia. Keputusan pahit ini dijadwalkan akan berlaku efektif pada 10 November 2026 mendatang. Sritex menjadi bagian dari deretan 18 emiten yang terpaksa ditendang dari bursa karena tidak lagi memenuhi kriteria sebagai perusahaan terbuka yang sehat secara regulasi maupun finansial.
Baca Juga : Strategi di Balik Langkah Ekspansi LINK Makin Agresif
Di tengah kondisi di mana SRIL resmi menuju delisting, muncul fakta menarik mengenai komposisi pemegang saham yang menjadi sorotan publik. Nama investor kawakan tanah air, Lo Kheng Hong, tercatat masih memiliki porsi kepemilikan sekitar 1,02 persen di perusahaan tekstil asal Solo tersebut. Keberadaan investor bernilai tinggi dalam daftar pemegang saham ini menunjukkan betapa dalamnya dampak dari keruntuhan emiten ini, yang bahkan menyentuh para pelaku pasar berpengalaman yang selama ini dikenal sangat selektif dalam memilih instrumen investasi jangka panjang.
Hingga saat ini, status perdagangan saham SRIL masih berada dalam penguncian atau suspensi total, yang membuat para investor ritel tidak memiliki ruang untuk melakukan transaksi di pasar reguler. Menyadari potensi kerugian masif yang dihadapi masyarakat, Bursa Efek Indonesia terus mendorong pihak manajemen perseroan untuk melaksanakan aksi buyback atau pembelian kembali saham dari publik sebelum proses penghapusan dilakukan. Langkah ini dianggap sebagai satu-satunya bentuk perlindungan investor yang tersisa agar pemegang saham minoritas mendapatkan kompensasi yang layak sebelum saham tersebut benar-benar hilang dari papan perdagangan.
Baca Juga : Momen Dividen Jumbo BBRI Cair di Kuartal Kedua 2026
Proses di mana SRIL resmi menuju delisting menjadi pengingat keras bagi para pelaku pasar akan pentingnya analisis risiko dan pemantauan kondisi utang perusahaan secara berkala. Bagi Sritex, keluar dari bursa berarti hilangnya akses pendanaan murah dari pasar modal, yang tentu akan semakin mempersulit proses restrukturisasi internal mereka. Publik kini menanti itikad baik dari jajaran direksi SRIL untuk merespons dorongan buyback dari BEI, sembari berharap ada solusi yang lebih adil bagi ribuan investor yang asetnya terperangkap dalam sejarah panjang jatuhnya sang raksasa tekstil nasional ini.
