Kabar kurang sedap kembali datang dari sektor konstruksi pelat merah. Lembaga pemeringkat efek, Pefindo, resmi menurunkan peringkat surat utang PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) ke level idD atau Default.
Keputusan ini diambil menyusul kegagalan emiten konstruksi tersebut dalam membayar kewajiban kupon yang seharusnya jatuh tempo pada 3 Februari 2026.
Baca Juga : OJK Dorong Transparansi Kepemilikan 1% Saham, Ini Isi Usulan ke MSCI
Detail Penurunan Peringkat
Penurunan peringkat ini menyasar instrumen keuangan spesifik milik perseroan, yaitu:
-
Obligasi Berkelanjutan III WIKA dipangkas menjadi idD.
-
Sukuk Mudharabah Berkelanjutan III WIKA dipangkas menjadi idD(sy).
Notasi idD (Default) mencerminkan kondisi di mana obligor gagal membayar kewajiban bunga atau pokok secara tepat waktu sesuai dengan perjanjian perwaliamanatan.
Peringkat Korporasi Tetap idSD
Meskipun peringkat surat utangnya berada di level Default, Pefindo tetap mempertahankan peringkat korporasi WIKA pada level idSD (Selective Default). Peringkat ini menunjukkan bahwa:
-
Tekanan Likuiditas Berat: Perseroan masih menghadapi tantangan arus kas yang sangat ketat untuk memenuhi kewajiban jangka pendek.
-
Risiko Gagal Bayar Lanjutan: Masih adanya risiko bahwa WIKA mungkin tidak mampu memenuhi kewajiban pada instrumen keuangan lainnya di masa mendatang.
-
Kondisi Selektif: Status Selective Default menandakan perseroan gagal pada satu atau beberapa instrumen tertentu, namun masih beroperasi dan berusaha melakukan restrukturisasi pada kewajiban lainnya.
Dampak Bagi Investor dan Saham WIKA
Kegagalan bayar kupon ini menjadi sinyal merah bagi para pelaku pasar, terutama investor ritel dan institusi yang memegang surat utang maupun saham WIKA. Sektor BUMN Karya memang tengah menjadi sorotan tajam dalam beberapa tahun terakhir akibat beban utang yang menggunung dan proses restrukturisasi yang berkepanjangan.
Baca Juga : Bareskrim Geledah Sekuritas Shinhan Soal Gorengan
Bagi Anda para investor, terutama di kategori saham pemula, kondisi ini mengingatkan pentingnya melakukan analisis mendalam terhadap laporan keuangan, khususnya rasio utang (Debt to Equity Ratio) dan kemampuan bayar bunga (Interest Coverage Ratio) sebelum memutuskan berinvestasi pada saham-saham konstruksi.
